Kumpulan Karya Surya Rangga, Permata Yang Hilang

Halimatusadiyah😊


Cipt. Rangga Surya

“Permata Yang Hilang”
   Untukmu Sahabatku, kutuliskan kisah kerinduan…….
                Disaat kau akan membaca Kisah suci maha karyaku ini. Kuharap, hanya tuhanlah satu-satunya yang menemanimu untuk  membaca kisah dalam lembaran kertas ini, biarkan ini menjadi kisah yang tersimpan di memorimu, sesungguhnya di ketika ku tuliskan kisah ini, disaat itu juga Tercurahnya isi hatiku, biar tuhan tahu akan Isi Hatiku yang dihari ini. sedang Gundah Tak Menentu. Tuhan, akan menjadi saksi akan kisah ini. Kisah Permata yang Hilang, Siapapun yang menjadi tokoh utama dalam kisah ini hidupnya sudah dirundung kemalangan dari sejak kecil, Sahabat... Kalau kau benar-benar ingin menjadi pemenang di hati ini, ketahuilah sahabat... ketahuilah terlebih dahulu siapa sebenarnya aku ini dimata Tuhannya…! Wahai Sahabatku, Kini ku tuliskan karyaku yang Pertama ini sebagai curahan isi hatiku yang sudah lama membusuk tak tercurah khusus untukmu, perlu kamu ketahui  Sahabat, Sebuah Kisah yang terjadi dalam lima tahun Kebelakang sebelum Kita duduk dibangku kelas sebelas, sebuah kisah yang di awali dari....
“Munculnya Sang Permata”
                    Ini Adalah Kisah Hidup seorang anak yang dalam setiap Sendi Kehidupannya dia tidak pernah jauh dari tiga perkara, yaitu….
Berkelahi, Penderitaan, dan Kepedihan……
             Semua Itu, tak pernah jauh dari setiap detik kehidupnya, setiap hembus Nafasnya, dan Setiap Alur Langkahnya selalu diselimuti tiga perkara itu, dan semua jalan untuk Cerahnya Kehidupan telah tertutup baginya, dia merasa seakan dunia ini adalah tempat yang sangat sempit Untuk Kakinya Berpijak, waktu ini Terasa sangat singkat. dimana selalu hanya ada dua pilihan dalam setiap alur Kehidupannya, Diketika ia memegang sebuah Pilihan Antara Jatuhkan atau dijatuhkan, Pukul atau dipukul, Bunuh atau akan terbunuh, Iyah atau tidak…..
              Sebut saja Namanya “Pratama” di umurnya yang masih remaja dia dihadapkan dengan beberapa Alur Kehidupan Yang Maha Sulit, dia adalah salah satu anggota dari Sebuah Gangster besar di daerah barat yaitu gang S1C, sebuah gang Anak remaja yang tidak pernah mengenal perdamaian, Hidup mereka selalu berselimut kegelapan, dalam setiap nafas mereka, setiap langkah kaki mereka, selalu ada pertempuran antara hidup dan Mati. Tujuan yang mereka kejar dari apa yang mereka lakukan itu hanyalah kekuasaan dan martabat yang tidak jelas, serta ambisi untuk memuaskan nafsu dan amarah. tak pernah ada keuntungan dari apa yang mereka lakukan itu, dan apa yang mereka lakukan itu, telah membuat nyawa orang-orang disekitar mereka jadi terancam berakhir.
                    Bahkan, Nama gangster itu sudah tercatat di dalam catatan criminal di kepolisian daerah barat. Dan bahkan Sudah ada dua Orang dari anggotanya yang telah menjadi tahanan di kepolisian. Usia Pratama masih sangatlah muda, dua belas tahun. Tubuhnya Pendek dan Sekal, akan tetapi dia disegani teman-temannya. Semua Itu karena di Usianya saat masih empat tahun, Ia sudah mampu mengalahkan anak di atas usianya dengan mematahkan tangannya dalam sebuah perkelahian bebas yang biasa disebut dengan separing. Sorot matanya tajam dan sikapnya dingin kepada semua orang dikehidupnya, tapi seperti apapun dia, sekejam apapun dia, Ada dua perkara yang bias mebuatnya lemah dan layu. yaitu, Ibunya dan Tangisan Seorang Wanita, dia sangat turut dan patuh kepada ibunya, dan meskipun Hidupnya Penuh dengan kedengkian, keburukan, dan gelapnya kehidupan. Dia adalah orang yang anti akan mabuk2an dan merokok, karena menurutnya itu adalah hal yang sia-sia dan tak berguna, dia memang membenci sesuatu yang menurutnya itu tidak ada gunanya.
                   Dan Sampai saatnya pada suatu hari di dalam sebuah pertempuran antara Anggota S1C dengan Musuh Terbesarnya Gangster yang bernama XPENJA. Dalam pertempuran itu S1C mengalami kekalahan yang cukup merugikan, Salah satu teman Pratama yang sekaligus adalah teman terdekatnya yang bernama “Olan” terluka parah,  dia terkena sabeten sebuah Kattana di kaki kirinya dan langsung dibawa ke rumah sakit
, lukanya itu perlu untuk di amputasi kata dokter, Pratama pun menemani Olan temannya yang terluka itu dirumah sakit itu satu malam lamanya, dan setelah pagihari tiba dia menemani temannya dirumah sakit itu, akhirnya dia akan pulang kerumahnya. Tetapi, baru saja dia keluar dari gerbang rumah sakit tersebut handphone-nya berdering dia mendapati sebuah panggilan suara dari salah seorang temannya bahwa ada satu orang anggota dari gang S1C yang celaka karena terjatuh saat akan menghentikan sebuah truck besar, tubuhnya terbelah dua tergiles ban mobil dan langsung dilarikan kerumah sakit, Mendengar hal itu Pratama tidak jadi pulang, dia langsung bergegas mecari rumah sakit tempat temannya itu dilarikan, tetapi saat pratama sampai ke pertengahan jalan dia mendapat sebuah pesan lagi bahwa temannya itu tak terselamatkan dia tak kuat menahan sakit ditubuhnya yang sudah tak serupa tubuh manusia dan meninggal dunia di tengah-tengah perjalanan menuju rumah sakit. Pratama semakin Bingung dan Resah, temannya ada yang di amputasi dan sekarang di rumah sakit, dan yang satu lagi temannya langsung segera di makamkan karena celaka konyol menghentikan sebuah mobil truck besar, Semua anggota gang-nya hadir dipemakaman, setelah pulang dari pemakaman pratama membawa teman-temannya kerumah sakit untuk melihat temannya yang di amputasi itu. Dan tiba disana mereka semua menyaksikan bahwa  Keadaan tubuh teman mereka sudah tak sempurna dia hanya memilki sebilah kaki saja, Pratama sangat marah pada dirinya sendiri, dia marah-marah di rumah sakit.
               Sambil memegang tangan Olan temannya itu dia mengatakan “Saya janji lan, saya akan balaskan semua ini, saya akan serang kembali Gang XPENJA untuk membawa kemenangan bagi gang kita, dan untuk menggantikan kakimu yang hilang ini maka mereka harus kehilangan sesuatu yg lebih berharga dari pada sebilah kaki, aku janji.” Tapi, belum sempat ia selesaikan bicaranya, Olan temannya yang kakinya di amputasi itu memotong pembicaraannya “Boddoh Kamu, kenapa sih kamu gak pernah sadar Pratama, yang menyebabkan kakiku seperti ini bukan gang xpenja, tapi kita sendiri, ini adalah hukuman dari tuhan, dan bukan karena kekalahan dalam pertempuran, dan jamil teman kita yang baru saja jasadnya dimakamkan adalah contoh, bahwa segala tindakan yang kita lakukan itu tidak dipersetujui tuhan, tuhan kini meluahkan amarahnya yang sudah lama muak melihat apa yang kita lakukan dimuka bumi ini pratama, Kapan kalian semua mau sadar, mau sampai kapan kalian berjalan di lorong yang gelap gulita ini, lihatlah kawan masih banyak jalan bercahaya yang penuh dengan keberkahan untuk kita pijaki langkah hidup ini, nafas ini masih sangatlah panjang, mau sampai kapan lagi, Mau sampai kalian semua seperti aku,  Sampai Salah Satu Anggota Tubuh kalian diambil tuhan. Haaah, jawab guys jawab…!” Pratama dan semua teman-temannya yg mendengar kata-kata dari Olan itu langsung bisu takut dan merasa tak enak hati... “Enggak-enggak pokoknya ini bukan Karena hukuman atau apapun dari tuhan, ini gak ada sangkut pautnya dengan itu semua, ini hanya kekalahan yang biasa terjadi dalam sebuah pertempuran. Pokoknya guys kita Harus serang kembali Gang XPENJA aku tak akan menerima apapun alasannya”…Olan Tampak mengeluh mendengar jawaban dari Pratama, Dan teman-temannya justru malah turut pada Pratama walau sebenarnya ada perasaan takut dan enggan di hati mereka setelah mendengar apa yang dikatakan teman mereka Olan. Tapi, justru mereka malah lebih takut pada amarah dan ambisi Pratama. Mereka pun langsung berangkat ke markas dan mengambil senjata tempur sebagian ada yang memakai Kattana dan sebagian lagi ada yang membawa Gir Motor, klewang, double stick, dan bahkan cerulit dan kerambit. Pratama langsung menghubungi ketua gang XPENJA dan menantangnya untuk menyatakan bertempur.
               Dan dalam Pertempurannya yang Kedua kali ini dengan gang XPENJA itu gang S1C mengalami kekalahan kembali, dan kemudian pertempuran itu terhenti karena ada pihak kepolisian yang mengetahui kejadian itu yang langsung menghentikan pertempuran dengan satu hempasan peluru ke udara. Semua orang yang bersangkutan dan merasa dirinya terlibat dalam pertempuran itu langsung berlarian. Tapi, ada salah satu dari anggota S1C yang tertangkap karena Kakinya Cedera dan tak bisa berlari, Pratama dan semua teman-temannya berlarian tanpa peduli pada temannya yang tertangkap polisi itu. Pratama pun hanya bisa menyaksikan dari jauh ketika berlari bahwa tangan temannya diringkus dengan sebuah borgol dan di masukan secara paksa kedalam mobil hitam putih dengan lampu dan suaranya yang identik menandakan bahwa itu adalah tanda kekacauan yang sedang terjadi.
              Sehari setelah kejadian penuh dengan kekacauan dan derita itu, Pratama shock dan tidak masuk sekolah dia mengurung diri di kamarnya, dia teringat-ingat terus dengan semua kejadian itu dan kata-kata dari Olan Temannya. Dan setelah jam pulang sekolah teman-temannya menengok kerumahnya. “Pratama, ayolah… kau jangan diam saja, apa mungkin lebih baik kita serang kembali gang xpenja itu, kita habisi mereka tanpa ampun, kita itu kan Gang yang paling kuat di daerah Barat. Masa mau terima kekalahan begitu saja.” Pratama tak menjawab apa-apa, dia bersikap dingin kepada teman-temannya, dia mengabaikan setiap kata dari teman-temannya. Setelah kejadian itu, dia hampir tak pernah menemui teman-temannya lagi, di Sekolah dia tak sedikit pun mendekati atau mau bicara dengan teman-temannya. Setelah kejadian itu Pratama menjadi pribadi yang berbeda. Dia lebih sering melamun, gampang marah, dan sering menyendiri, dan bahkan orang-orang sering menyebutnya si harimau tua yang terluka hatinya.
                  Dan Sifatnya yang seperti Itu, telah berlangsung sangat lama sampai akhirnya, Pada Waktu itu di jam pelajaran saat di sekolah dia duduk di kursi kayu kantin sekolah Pratama menyendiri dan melamun, tiba-tiba.
“Akhi... lagi ngapain…? Heeii...?” Namun pratama terlihat bingung ia tak langsung menjawab pertanyaan itu, dia malah memurungkan wajah tanda bingung. “Eeem, maksud kamu, saya. Kamu Panggil Saya.” Tegurnya baru tersadar. ”Ia, Antum, Saya Panggil Antum Akhi.” Pratama Malah Semakin Memurungkan Wajahnya. “Eeeem. Maaf yah, Nama Saya Bukan Antum atau Akhi Nama saya PratamaJawab Pratama Sambil Garuk-garuk Kepala. “Ooh Iyah, Maaf, Eeee Giniyah Akhi, Antum Itu adalah Cara Saya Memanngil Seorang lelaki yang belum saya kenali”. Jawabnya Sambil Tersenyum. “Ooh Gitu, terus ada apa kamu manggil saya...?.” Tanya Pratama dengan mimik muka yang dingin. “Ooh Enggak, Tadi Anna lihat Antum Ngelamun disini, sekarang udah jam masuk lho akhi, barusaja bell sekolah dibunyiin, dan lagi pula ngelamun itu kan dilarang oleh Agama akhi tahu itukan...?” Pratama Malah Merasa Tersinggung. “Ooh, Jadi Gitu Yaaah, Bu Ustadzah terus saya harus Ngapain Loncat-loncat atau Lari-larian gituh. Haaah, Udahlah kamu gak usah Ikut Campur Urusan Saya, Mau Saya Masuk Kelas atau Enggak Kek, itu Terserah Saya Dong…!” Nafas Wanita Itu Terlihat Berdegup Kencang, hingga Keluar Sebuah Ucapan dari Mulutnya, dengan tenang Wanita Berkerudung Hitam itu Mengatakan. “ Iyaaah Akhi, saya Minta Maaf, saya telah berani ganggu hidup Akhi tapi, sungguh tak lain sebenarnya niat saya Hanyalah ingin mengingatkan Akhi saja, dan saling mengingatkan adalah Tugas Bagi seluruh Umat Muslim Akhi, dan Jujur Saja, Saya merasa tak Enak dengan Jawaban akhi yang sederhana tapi sangat menusuk Tadi. Terimakasih… Assalamu’alaikum.” Dengan mata meneteskan Air Mata Wanita itu Bergegas meninggalkan Pratama, Pratama merasa bingung dengan kelakuan wanita tadi, “Siapa Dia yaah, Anneh… Dari Kelakuannya dia terlihat seperti orang baru di sekolah ini. Bikin Penasaran ajah, siapa dia ? Apa Aku Terlalu keras yaah Sama Dia tadi. Hhh” (menghela nafas).
              Pratama berdiri di samping gerbang sekolah sampai jam pulang tanpa ada yang menghalangi atau melarangnya bahkan satpam sekolahpun tak berani melarang tindakannya dan saat semua siswa-siswi dibubarkan Matanya melarat-lirik seperti Mencari seseorang dan Akhirnya Saat Keluar wajah Wanita Itu Di Depan Gerbang Pratama langsung Mencegah dan menghentikan langkahnya. “Heeei. Tunggu-tunggu, Ayo Sini Ikut Aku,” Pratama dengan Keras Memegang Erat Tangan Wanita itu dan Membawanya ke Sebuah Bangunan yang Sepi yang Tak Jauh dari Pinggiran Sekolah, yang tempat itu adalah markas Gang S1C. “Heeei, Mau Ngapain, Lepasin Tangan Saya Lepasin, apasih Mau Kamu Lepasin Aku Lepasiin.” Wanita itu terlihat Ketakutan sampai akhirnya menangis. “Hei hei, jangan Nangis Nanti Kedenger Orang lain malah salah sangka lagi. Hei please-please, Aku bukan Orang Jahat Kok, Tenang Yah, tenang Kumohon.” Pratama berusaha Menghentikan Tangisnya. “Terus Kamu Mau apa? Kenapa Harus Bawa aku ke tempat Seperti ini Aku Takut Aku Mau Pulang.” Tangisnya Sedikit Mereda Tapi dia tetap masih meringik. ”Oh, Enggak Maaf yah kalo agak terlihat kasar, saya cuman mau Tanya sesuatu sama kamu please yah gak usah nangis lagi.”…”Ini Tuh memang Kasar yah, bukan terlihat kasar, dan emangnya kamu Mau Tanya Apa kok sampai segininya sih…? dan kenapa coba harus di tempat yang seperti ini, Oh Iyah Bukannya kamu kan yang hidupnya gak mau diganggu itu dan kamu bilang hidupmu terserah padamu itu, Sekarang kenapa malah kamu yang ganggu hidup aku ?” Tegur wanita itu dengan gaya membentak karena kesal. “Iya-iyah maaf yaah aku waktu itu sedang gak sadar aku hilang kendali Jadi aku mohon maafin aku Yah, kamu harus tenang.”Jawab Pratama sambil berusaha meredakan amarahnya. “Oooh jadi gitu yah, tadi pagi kamu marah-marah dan sekarang kamu berlagak sok lembut, Laki-laki memang semuanya sama yah, Cuman pura-pura lemah dihadapan perempuan.” Jawabnya dengan bunyi suara agak terlihat marah. “Iyah tapi aku kan udah minta maaf tadi, masa kamu gak maafin aku sih, Bukannya tuhan itu Maha Pemaafkan.” Pratama Mengayunkan tangannya mengajak berdamai. “Maaf, kita bukan makhrom Akhi.” Wanita itu malah merundukan kepalanya. “Oh iyah maaf, aku lupa, Eeee aku boleh tahu nama kamu enggak siapa nama kamu?” Tanya Pratama sambil menepukan kedua tangannya di depan dadanya tanda hormat. “Boleh, Tapi nanti” Wanita itu mengusap air matanya dan dengan tersenyum manis dia bergegas meninggalkan Pratama sama seperti apa yang dia lakukan saat di kantin. “Heei mau kemana, Mau Nanti kapan ?” Pratama Berteriak keras menghentikan langkahnya, sampai wanita itu berhenti sebelum akhirnya hilang dari pandangan mata Pratama, dia membalikan wajahnya dan tersenyum manis pada Pratama dengan sorot Mata yang Tajam.
               “Astaghfirullah al’adzim.” Pratama melongok, melihat senyumannya dan mulutnya membisu. “Hehehehe” wanita itu tertawa dengan menutup mulutnya menggunakan tangan dan hanya terdengar suara nafasnya. Sehingga membuat Pratama semakin Melongok menatapnya. “Assalamu’alaikum ya Akhi” sahut wanita itu sambil menundukan sedikit kepalanya namun matanya tetap dengan tajam menatap wajah Pratama. “Wa, wa, wa wa’alaikumussallam.” Jawab Pratama sambil terlihat gugup mulutnya. Dan sampai langkah wanita itu hilang dari pandangan matanya, Pratama langsung senyum-senyum sendiri. “Hh, Sebenarnya Siapa dia ? dia sangat aneh Semakin bikin Penasaran aja, tapi ternyata jika kulihat dari dekat wajahnya… Cantik juga, senyumannya sangat manis. Hh, sepertinya dia juga pinter agama dan Mungkin, dia bisa bantu aku buat selesain masalah ini, Semoga aja sih.” Pratama semakin penasaran dengan sikap wanita itu, dia berniat mendekati wanita itu karena dia fikir mungkin akan lebih baik jika masalahnya itu dia selesaikan bersama orang yang pintar Agama.
               Saat dia akan segera pulang teman-temannya menghalangi jalannya, dan mereka berkumpul mengelilinginya tidak memberikan jalan. “Wanita yaah memang berat. Hahaha jadi gara-gara seorang wanita seorang Pratama bisa berubah seperti ini, Seorang Pratama sang harimau tua yang terkenal beringasnya itu yang tatapannya menakutkan suaranya membuat semua orang tunduk padanya itu, kini telah berubah menjadi seorang pengecut yang bahkan tidak mempedulikan teman-temannya lagi, Ingatlah Pratama bukankah kita semua sudah mengucap janji, didalam lingkaran bayangan bulan kita bersumpah bahwa persahabatan ini harus lebih kuat dari rasa sakit, lebih kuat dari rasa Cinta, dan lebih kuat dari kepedihan, tak lupuk oleh panas tak lekang terkena hujan, benarkan Pratama dan kini, apa yang kau lakukan hah, kami baru saja menghadapi sebuah pertempuran besar dan kau, dimana kau saat teman-temanmu kesusahan ini Pratama, dimana kau saat teman-temanmu membutuhkan kehadiranmu, kau telah melanggarnya Pratama, kau sendiri yang pertama melanggar Perjanjian itu.” Temannya Geri Memarahinya karena dia tidak ada saat Gang-nya mengadakan sebuah Pertempuran. Tapi, dengan dingin Pratama menjawab “Yah, Benar aku memang pelanggar pertama perjanjian itu, tapi setidaknya aku tidak membuat teman-temanku kehilangan anggota tubuhnya lagi, atau kehilangan nyawanya, Nyawa ger... nyawa. Pikirkan itu sekali lagi ger, pikirkan, dan maaf aku bukan pengecut kalau mau membuktikannya kamu datang ke tempat kita biasa separing hh” Pratama langsung meninggalkan teman-temannya tanpa permisi dengan wajah dan tatapan yang dingin. Pratama… pratama berhenti atau kalau tidak…” temannya Geri membentak keras sampai menghentikan langkahnya. Pratama pun langsung berbalik arah dengan cepat tanpa ada yang bisa menebak gerakannya Pratama tiba-tiba tangannya secepat angin mengarah kerah baju geri dan langsung mencengkramnya dengan erat lalu menyeretnya ke tembok. “ Kalau tidak apa... hah ?... memangnya kau bisa apa Geri melepaskan Tanganku saja kau tak mampu. Kau itu lemah Geri jangan harap bisa melakukan sesuatu padaku, Faham seekor tikus tidak akan pernah bisa mencengkram harimau walaupun harimau itu sedang tidur.” Pratama berbalik mengancamnya. “Tentu tidak Pratama, kamu salah Besar, kamu salah Pratama. Aku memang tak sekuat kamu tapi aku punya sesuatu yang dapat membuatmu tunduk Pratama, Berhati-hatilah Karena seekor tikus bisa menggigit tubuh perkasa sang harimau hingga hancur lebur. ”Geri balik mengancamnya kembali. “Jangan macam-macam kamu Ger, atau nyawamu tak akan merasa aman lagi hidup di dunia ini. Hh, Pengecut.” Pratama membanting tubuh Geri temannya itu ke lantai dan langsung meninggalkannya. Setelah Pratama pergi jauh dari tempat itu teman-temannya berunding tentang tindakan Pratam tadi. “Guys. Pokoknya kita gak bisa tinggal diam kita harus segera melakukan sesuatu, kita harus buat Pratama jauh dari wanita sok Alim itu.” Sahut Geri mengeluarkan pemikirannya. “Bener Ger, gara-gara peremuan itu Pratama jadi berubah seperti itu, tapi kita harus ngelakuin apa ger?” jawab dari anggotanya. “Pertama, kita harus Culik Wanita itu dulu, siapa yang tahu info tentang wanita itu kita butuh informasi tentang dia.” Tegur Geri dengan Nada suara yang tinggi. “Apa… Culik, Kamu gila Ger apa itu gak keterlaluan, itu udah kelewatan ger.” Sahut Imon temannya karena kaget mendengar apa yang dikatakan Geri. “Kenapa...? kamu takut, kalo mau jadi penakut sana Pergi jadilah penakut seperti si Pratama itu, dan mulai hari ini Akulah Panglima Gang ini, Aku yang akan memimpin dan Memerintah Kalian, dan kalo ada yang gak setuju siahkan maju segera tuntaskan. Hahahaha.” Geri tetawa lepas seperti baru mendapat kunci untuk surganya, karena sebenarnya sudah lama geri benci sama Pratama dan ingin menggantikan Posisinya sebagai panglima Gang. *














“Mata Hati Yang Buta”
              Mah, Pratama mau berangkat, Sarapan Pratama mana Mah?” Teriak Pratama pada ibunya. “Wah wah, ada apa nih anak Mamah kok keliatannya Semangat sekali hari ini, Ada apa ayo cerita sama mamah, mamah Jadi seneng deh lihatnya daripada kemarin, wajahmu Masam Sekali, ayo ceritakan apa yang membuatmu senyum-senyum seperti ini.” Tanya Ibunya Merayu. “Ooh gak ada Apa-apa kok mah, Pratama cuman lagi enakan ajah hari ini.” Jawab Pratama menyembunyikan sesuatu. “Ya udah, kalo kamu gak mau cerita Sama Ibu, tapi jangan harap kamu akan ibu kasih uang saku untuk hari ini.” Ibunya mengancam. “Loh kok bisa gitu sih Mah,” Rintih Pratama Ketakutan “Yah itu sih terserah kamu.”…”Oke oke Mah Pratama Bakalan Cerita, tapi nanti yah kalo Pratama sudah pulang Sekolah!!”…”Ok… Janji.” Jawab Ibunya Sambil memberi Jari kelingkingnya Tanda Sebuah perjanjian. “Janji.” Pratama membalas dengan Pasrah dan memberikan jari kelingkingnya. “Ya Udah Pratama Berangkat Dulu Yah Bu” …”Iyah Hati-hati yah nak!”…”Iyah Assalamualaikum Bu…” Sahut Pratama Sambil Merangkul Tas Sekolahnya. “Wa’alaikumsalam” jawab ibunya dengan sebersit senyuman di wajahnya.

Triing triiing, suara bell berbunyi🔔
Semua anakpun masuk ke kelasnya masing-masing
            



Komentar

Postingan Populer